Membangun Masa Depan yang Cerah Melalui Peningkatan Kualitas Tenaga Kesehatan

Keberagaman geografi, penduduk, dan ekonomi dalam wilayah ASEAN merupakan pedang bermata ganda. Di satu sisi, keberagaman menawarkan berbagai perspektif dan inklusivitas dalam penanganan pasien, sesuatu yang amat dibutuhkan dalam menghadapi variasi demografi penduduk di Asia Tenggara. Di sisi lain, diversitas ini membuat perjalanan menuju Universal Health Coverage (UHC) semakin menantang dengan adanya perbedaan dalam tingkat perkembangan kesehatan di masing-masing daerah.

 

Tantangan Kesehatan di Negara-Negara ASEAN

Meskipun beberapa negara telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam pelayanan kesehatan, mayoritas negara Asia Tenggara masih menghadapi tiga tantangan yang sama: kurangnya dana dari pemerintah yang dialokasikan untuk kesehatan; transisi secara epidemiologi berupa peningkatan non-communicable diseases (NCDs), keberadaan penyakit infeksius yang persisten, serta risiko terjadinya pandemi; dan kurangnya jumlah tenaga kesehatan bersama dengan distribusi yang tidak merata.

 

Peran Tenaga Kesehatan

Menghadapi hal ini, peran tenaga kesehatan menjadi sangat krusial, mengingat kontribusi mereka sebagai ujung tombak terdepan dalam pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan memberikan pelayanan secara holistik—mulai dari upaya preventif, promotif, kuratif, hingga paliatif—sehingga meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan seutuhnya. Melalui peningkatan kualitas ini, biaya jangka panjang yang harus dibayar akibat penyakit dan gangguan kesehatan lainnya akan berkurang. Tak hanya itu, tenaga kesehatan juga merupakan mentor dan pendidik bagi calon-calon tenaga kesehatan lainnya. Artinya, peran tenaga kesehatan tidak hanya terbatas pada saat ini saja, tetapi juga di masa depan. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan kualitas dari tenaga kesehatan, terutama di wilayah ASEAN.

 

Meningkatkan Kualitas Tenaga Kesehatan
Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan kualitas tenaga kesehatan, mulai dari mengevaluasi kinerja secara berkala, hingga mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang rentan dilakukan. Akan tetapi, cara yang paling efektif adalah melalui pendidikan profesi kesehatan. Melalui proses pembelajaran yang dilakukan, tenaga kesehatan mempelajari dasar pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Proses pendidikan kesehatan juga membantu menjamin keamanan pasien serta mengajarkan standar etika dan profesionalisme yang tinggi. Pada akhirnya, proses pendidikan inilah yang mengajarkan para tenaga kesehatan bagaimana memahami kebutuhan pasien dan menyediakan pelayanan yang berkualitas.

 

Terdapat berbagai komponen yang terlibat dalam pendidikan kesehatan. Salah satu komponen utama adalah para pemuda yang tengah menempuh pendidikan kesehatan itu sendiri. Melalui perspektif para muda-mudi sebagai murid, mereka dapat memberikan masukan dan saran pengembangan atas hal-hal yang telah dipelajari untuk meningkatkan kualitas pendidikan di masa depan. Salah satu wadah yang dapat menampung saran dan masukan yang mereka miliki adalah melalui forum diskusi yang membahas isu kesehatan dan pendidikan, seperti ASEAN+ Youth Summit.

 

Melalui forum ini, para pemuda dapat menyalurkan ide-ide dan saran terbaik mereka untuk meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan hingga akhirnya memberikan dampak nyata pada kualitas tenaga kesehatan di ASEAN. ASEAN+ Youth Summit juga memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses rekomendasi kebijakan dan negosiasi dengan para pemimpin di ASEAN. Oleh karena itu, forum ini menjadi tempat yang sempurna bagi para pemuda untuk membuat perubahan yang berdampak pada kualitas tenaga kesehatan di masa depan.

 

Konten ditulis oleh:
Jennyfer Febrina Widjaya
CIMSA UI
Marketing, Campaign, and Advocacy Team CIMSA Indonesia 2023–2024

 

Referensi:

  1. Van Minh, H., Pocock, N. S., Chaiyakunapruk, N., Chhorvann, C., Duc, H. A., Hanvoravongchai, P., Lim, J., Lucero-Prisno, D. E., 3rd, Ng, N., Phaholyothin, N., Phonvisay, A., Soe, K. M., & Sychareun, V. (2014). Progress toward universal health coverage in ASEAN. Global health action, 7, 25856. https://doi.org/10.3402/gha.v7.25856
  2. Sriratanaban J. (2015). ASEAN integration and health services. Global health action, 8, 27199. https://doi.org/10.3402/gha.v8.27199
  3. Knebel E. (2022). Educating Health Professionals to Improve Quality of Care, Center for Interprofessional Health. Available at: https://ipe.umn.edu/sites/health1.umn.edu/files/2021-08/educating-health-professionals-improve-care-quality1.pdf (Accessed: 21 August 2023).
  4. Georgiou, M. K., Merkouris, A., Hadjibalassi, M., & Sarafis, P. (2021). Contribution of Healthcare Professionals in Issues that Relate to Quality Management. Materia socio-medica, 33(1), 45–50. https://doi.org/10.5455/msm.2021.33.45-50
Author
devfolkastudio
Categories

Sexual Harassment

“Untuk ukuran perempuan, kamu sudah hebat sih” mungkin terdengar biasa, tapi bisa jadi bentuk pelecehan seksual yang halus. Pelecehan seksual tak selalu fisik — bisa juga lewat kata, tatapan, atau perilaku yang membuat seseorang merasa direndahkan dan tidak nyaman. Kenali bentuk-bentuknya, pahami dampaknya, dan jangan diam ketika mengalaminya. Kamu berhak merasa aman, didengar, dan dihormati.

CIMSA MORE – Dopamine Detox: Trik Otak Memanipulasi Fokus Diri

Hari Braille Sedunia: Himpunan Titik Jendela Dunia