BACILLUS - SCOME & SCORP CIMSA UNAIR

BACILLUS - SCOME & SCORP CIMSA UNAIR

image

BACILLUS

(Breaking The Silence with Medical Students)

SCOME & SCORP CIMSA UNAIR

BACILLUS 2019 (Breaking The Silence with Medical Students) adalah project SCOME & SCORP CIMSA UNAIR yang bertujuan untuk mengajarkan bahasa isyarat kepada mahasiswa kedokteran dan disaster risk reduction pada orang tuli. BACILLUS 2019 dilaksanakan pada 2 hari, Kamis 21 November 2019 dan Minggu 24 November 2019. BACILLUS diadakan untuk mengatasi kurangnya mahasiswa kedokteran yang dapat berbahasa isyarat dan juga tidak sedikitnya mahasiswa kedokteran yang mempunyai keinginan untuk mempelajari bahasa isyarat. Dengan kerjasama antara SCORP dan SCOME CIMSA UNAIR, BACILLUS juga mengangkat tema disaster sign language yang bertujuan untuk menolong orang tuli yang pada saat bencana terpengaruh secara tidak proporsional.

     

Acara ini dilaksanakan dengan bantuan dari banyak pihak eksternal. Diantaranya adalah The Unspoken Ministry (TUM), Gerkatin, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya. Keterlibatan pihak eksternal ini merupakan usaha dari SCORP dan SCOME CIMSA UNAIR untuk membangun project yang dapat menyediakan pakar pada bidangnya. Pemateri yang hadir dari Gerkatin yang tuli diantaranya adalah Willy Sidharta, Tjoe A Siok, dan Ketut Indra Laksana. Eleonora Thelma Moningka dari TUM berperan sebagai penengah antar CIMSA dan Gerkatin dan juga sebagai penerjamah. Dari BPBD, perwakilan yang dikirim adalah Irvan . BACILLUS juga kedatangan pembicara dari luar negeri, Herbert Klein yang merupakan  seorang pakar kesehatan mental orang tuli dari Inggris Raya (United Kingdom).

BACILLUS dibagi menjadi dua hari, hari pertama, yaitu hari Kamis digunakan untuk mengajarkan bahasa isyarat dasar dan budaya tuli kepada mahasiswa kedokteran. Hari Kedua diisi oleh materi mengenai disaster risk reduction yang dibawakan oleh The Unspoken Ministry, Gerkatin, dan BPBD. Materi bahasa isyarat dasar yang dipelajari pada hari pertama melingkupi cara memperkenalkan diri, keluarga, alfabet isyarat,  dan juga bahasa isyarat mengenai bencana alam. Hari Kedua menjelaskan materi mengenai berbagai macam bencana alam, resiko bencana alam, dan teknik evakuasi yang tepat dan patut dilakukan kepada orang tuli dan newbie SCOME. Rangkaian acara hari kedua diakhiri oleh simulasi gempa bumi dan ditutup dengan pembagian plakat kepada pembicara dan souvenir kepada semua anak-anak tuli yang datang.  

Dilaksanakannya project BACILLUS ini merupakan upaya untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mengenai disaster risk reduction kepada orang tuli dan bahasa isyarat pada mahasiswa kedokteran. Dengan diadakannya BACILLUS, diharapkan bahwa mahasiswa kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dapat berkomunikasi dengan orang tuli. Pada masyarakat luas dan pemerintah, diharapkan bahwa kesadaran mengenai bagaimana orang tuli terpengaruh oleh bencana alam dapat ditingkatkan lagi. SCOME dan SCORP CIMSA FK UNAIR berharap bahwa diadakannya acara BACILLUS pada kedepannya dapat menjadi lebih impactful dan mempunyai lingkup yang lebih luas.

Hide

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link to create a new password.

Error message here!

Back to log-in

Close
Top