Perjuangan Para Pahlawan Nasional yang Tidak Lekang oleh Waktu

Perjuangan Para Pahlawan Nasional yang Tidak Lekang oleh Waktu

image

17 Agustus 1945 adalah hari di mana negara Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Sampai detik ini, Indonesia sudah berdiri kokoh sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) selama tujuh puluh delapan tahun lamanya. Tentu saja perjuangan dalam mempertahankan hak kemerdekaan ini bukanlah hal yang mudah. Tetes demi tetes darah selalu menjadi sebuah bukti pengorbanan dari pahlawan nasional dalam menentang dan melawan kontroversi terhadap kemerdekaan Indonesia. Perjuangan ini tertulis indah dan rapi di setiap media massa yang ada sehingga generasi penerus bangsa dapat mengetahui dan mengimplementasikan berbagai nilai dan makna dari perjuangan para pahlawan nasional yang telah gugur demi mempertahankan citra bangsa Indonesia. Salah satu perjuangan yang perlu diambil maknanya adalah latar belakang dari Hari Pahlawan Nasional, yaitu perjuangan warga Surabaya dalam Pertempuran Surabaya.

Sejarah Hari Pahlawan Nasional

Pertempuran Surabaya adalah pertempuran terbesar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang disebabkan oleh para pahlawan bersama warga lokal yang menentang ultimatum penyerahan senjata pada tanggal 10 November 1945 yang dikeluarkan oleh Mayor Jenderal Mansergh atas kematian A. W. S. Mallaby pada tanggal 30 Oktober 1945. Tidak lain dan tidak bukan, penentangan ini bertujuan untuk menjaga citra dan harga diri bangsa Indonesia. Alih-alih menerima ultimatum tersebut, warga Surabaya memutuskan untuk melakukan perlawanan terhadap sekutu untuk terus mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Maka, terjadilah pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945 hingga 28 November 1945. Perlawanan ini memakan korban sebanyak 20.000 jiwa dari pihak kota Surabaya dan 1.500 jiwa dari pihak sekutu. Sebelum pertempuran Surabaya ini berlangsung, telah terjadi kericuhan yang cukup besar di depan sebuah hotel bernama Hotel Yamato yang melibatkan kehormatan bendera Indonesia. Komplikasi dari konflik ini membawa kota dengan rasa nasionalisme tersebut kepada Pertempuran Surabaya. 

Untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang telah gugur pada Pertempuran Surabaya, presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional. Penetapan ini diresmikan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 yang disahkan pada tanggal 16 Desember 1959. Melalui perayaan hari pahlawan nasional tersebut, generasi penerus bangsa diharapkan dapat memaknai arti dari perjuangan para pahlawan nasional dan dapat mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Pahlawan Nasional yang Namanya Diabadikan sebagai Nama Rumah Sakit

Sebagai mahasiswa kedokteran, pengabdian terhadap masyarakat adalah satu hal yang wajib ditanamkan di dalam hati dan dilaksanakan sebaik mungkin. Selain itu, sebagai seorang calon dokter, ada pernyataan yang mengungkapkan bahwa dokter yang kompeten dan profesional adalah dokter yang dengan tulus hati ingin membantu dan meningkatkan kesehatan nasional. Pernyataan tersebut secara tidak langsung telah meningkatkan tekad dan semangat mahasiswa kedokteran, khususnya para dokter dan calon dokter di masa pasca-kemerdekaan. Ada banyak sekali dokter yang ternyata berkutik langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di masa itu. Dari sekian banyak pahlawan nasional, ada sekian puluh yang berprofesi dokter dan beberapa nama di antaranya telah diabadikan menjadi nama sebuah rumah sakit di Indonesia. Berikut beberapa pahlawan nasional yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit.

  1. dr. Tjipto Mangoenkoesoemo
    Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo, atau biasa disebut dan disingkat RSCM, adalah rumah sakit pemerintah yang didirikan pada tanggal 19 November 1919 yang terletak di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, Indonesia. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pendidikan bagi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penulisan nama rumah sakit tersebut sudah beberapa kali mengalami perubahan. Dimulai dari zaman penjajahan Belanda dengan nama STOVIA hingga zaman penjajahan Jepang dengan nama Ika Daigaku Byongin. Setelah beberapa kali berganti nama, rumah sakit ini ditetapkan dengan nama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo pada tanggal 13 Juni 1994 sesuai SK Menkes Nomor 553/Menkes/SK/VI/1994.

    Sebagai rumah sakit kelas A, RSUP Nasional dr. Cipto Mangunkusumo memiliki berbagai layanan unggulan terkait pengobatan, penatalaksanaan, maupun pencegahan kesehatan. Selain itu, rumah sakit tersebut juga sudah mencetak banyak prestasi. Salah satunya adalah penerimaan “The Recognition of Excellence Awards 2023” melalui perilisan aplikasi Smart RSCM. Dalam perkembangannya, RSUP Nasional dr. Cipto Mangunkusumo ini juga disahkan menjadi rumah sakit rujukan nasional untuk Provinsi DKI Jakarta.
     
  2. dr. Hasan Sadikin
    Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin, atau biasa disebut dan disingkat RSHS, adalah rumah sakit pemerintah yang didirikan pada tanggal 15 Oktober 1923 yang terletak di Kecamatan Sukajadi, Bandung, Indonesia. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pendidikan bagi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Sama halnya dengan RSUP Nasional dr. Cipto Mangunkusumo, penulisan nama rumah sakit yang terletak di Bandung ini juga sudah beberapa kali mengalami perubahan. Ketika baru diresmikan, rumah sakit ini bernama Het Algemeene Bandoengsche Ziekenhuijs. Kemudian, pada saat bekerja sama bersama Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, rumah sakit ini merubah namanya menjadi Rumah Sakit Ranca Badak. Setelah beberapa tahun, rumah sakit tersebut kembali merubah dan menetapkan namanya menjadi Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin pada tanggal 8 Oktober 1967.

    RSUP dr. Hasan Sadikin sudah mencetak banyak prestasi yang membanggakan. Rumah sakit tersebut juga sudah menggelar berbagai aktivitas. Salah satunya adalah Bakti Sosial Penanganan Nyeri yang tidak dipungut biaya sama sekali dengan dua macam kegiatan di dalamnya. Sebagai rumah sakit kelas A, rumah sakit ini juga dilengkapi dengan bermacam-macam layanan unggulan yang disediakan bagi pasien. Dalam perkembangannya, RSUP dr. Hasan Sadikin ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan nasional untuk Provinsi Jawa Barat. 
     
  3. dr. M. Djamil
    Rumah Sakit Umum Pusat dr. M. Djamil adalah rumah sakit pemerintah yang didirikan pada tanggal 23 November 1953 yang terletak di Kecamatan Padang Timur, Padang, Indonesia. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pendidikan bagi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Pada awalnya, rumah sakit tersebut bernama RSU Megawati yang menempati dua komplek. Seiring berjalannya waktu, RSU ini menggunakan nama seorang pemuda asal Sumatera Barat yang meninggal dalam perjuangannya demi menegakkan kemerdekaan Indonesia untuk diabadikan, yakni dr. M. Djamil. Saat itu, dr. M. Djamil banyak memperjuangkan hak warga pribumi di bidang kesehatan. Pada tahun 1978, RSU Megawati resmi memperoleh sebutan namanya menjadi Rumah Sakit Umum Pusat dr. M. Djamil.

    Sebagai rumah sakit kelas A, RSUP dr. M. Djamil dilengkapi dengan berbagai layanan unggulan untuk memberikan tatalaksana terbaik kepada pasien. Selain itu, rumah sakit tersebut juga sudah mencetak banyak prestasi. Salah satunya adalah telah terakreditasi internasional oleh Komisi Akreditasi RS (KARS) Internasional pada tanggal 9 April 2019. Dalam perkembangannya, RSUP dr. M. Djamil ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan nasional untuk Provinsi Sumatera Barat.
     
  4. dr. Kariadi
    Rumah Sakit Umum Pusat dr. Kariadi adalah rumah sakit pemerintah yang didirikan pada tanggal 9 September 1925 yang terletak di Kecamatan Semarang Selatan, Semarang, Indonesia. Rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit pendidikan bagi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Penulisan nama rumah sakit yang terletak di Semarang ini sudah beberapa kali mengalami perubahan. Dimulai dari zaman penjajahan Belanda dengan nama Centrale Buzgerlijke Ziekewsichting hingga zaman penjajahan Jepang dengan nama Purusara. Setelah beberapa kali mengalami perubahan, Departemen Kesehatan menetapkan nama rumah sakit ini menjadi Rumah Sakit Umum Pusat dr. Kariadi sebagai rumah sakit vertikal miliknya pada tanggal 14 April 1964. Penetapan tersebut sesuai dengan SK Menteri Kesehatan RI No. 21215/Kab/1964.

    Sebagai rumah sakit kelas A, RSUP dr. Kariadi menyediakan berbagai layanan unggulan untuk mendukung para tenaga kesehatan, khususnya dokter, dalam menegakkan diagnosis dan menyuguhkan tatalaksana yang terbaik bagi pasiennya. Selain itu, rumah sakit ini juga sudah memiliki bermacam-macam prestasi dan menggelar banyak aktivitas. Salah satunya adalah diselenggarakannya Tatalaksana TB Komprehensif di Ruang Isolasi 2023 dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dari rumah sakit tersebut. Dalam perkembangannya, RSUP dr. Kariadi ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan nasional untuk Provinsi Jawa Tengah.
     
  5. dr. Wahidin Sudirohusodo
    Rumah Sakit Umum Pusat dr. Wahidin Sudirohusodo adalah rumah sakit pemerintah yang didirikan pada tahun 1993 yang berdekatan dengan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin di Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Indonesia. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pendidikan bagi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin. Sama halnya dengan RSUP dr. M. Djamil, penulisan awal nama rumah sakit yang terletak di Makassar ini bukanlah dengan nama dr. Wahidin Sudirohusodo, melainkan dengan nama Rumah Sakit Umum Dadi yang cikal bakalnya didirikan pada tahun 1947. Pada tahun 1994, nama RSU Dadi dirubah menjadi Rumah Sakit Umum Pusat dr. Wahidin Sudirohusodo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan R.I. No. 540/SK/VI/1994. 

    RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo sudah mencetak berbagai macam prestasi. Salah satunya adalah penerimaan penghargaan dari pemerintah untuk kategori Laboratorium dengan Performa Pemeriksaan Covid-19 Terbaik di Sulawesi pada acara Penganugerahan Penghargaan Penanganan Covid-19 di Jakarta, 20 Maret 2023. Sebagai rumah sakit kelas A, rumah sakit ini juga menyediakan bermacam-macam layanan unggulan untuk mendukung tatalaksana yang terbaik bagi pasien. Dalam perkembangannya, RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan nasional untuk Provinsi Sulawesi Selatan.

Melihat berbagai macam perjuangan dan perkembangan terhadap bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya, tentunya akan membuat jiwa dan hati menjadi lebih tegar dalam mengimplementasikan rasa nasionalisme dan kepedulian di kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbagai kisah heroik dari pahlawan nasional yang berprofesi dokter sudah tergoreskan dengan indah sejak dahulu kala. Saat ini, sebagai seorang calon dokter, sudah sepatutnya jejak pahlawan nasional tersebut kita ikuti dan amali. Marilah berkembang bersama demi meningkatkan kesehatan nasional dengan memberdayakan mahasiswa kedokteran untuk Indonesia.

Selamat Hari Pahlawan Nasional!

 

REFERENSI:

Hide

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link to create a new password.

Error message here!

Back to log-in

Close
Top