Miracle in Cell No.7: Membuka Mata tentang Diskriminasi Disabilitas di Indonesia

Miracle in Cell No.7: Membuka Mata tentang Diskriminasi Disabilitas di Indonesia

image

Miracle in Cell No.7 versi adaptasi Indonesia yang sedang ramai dibicarakan merupakan sebuah film bertema keluarga yang mengangkat kisah tentang perjuangan seorang ayah dengan disabilitas intelektual yang memperjuangkan keadilan di mata hukum untuk dapat tetap bersama anaknya. Film ini mengangkat banyak nilai terkait tindakan albeism yang tidak jarang ditujukan kepada para penyandang disabilitas di Indonesia.

Ableism. Veronica Chouinard mendefinisikan ableism sebagai “ide, praktik, hubungan institusi dan sosial yang mendukung orang berbadan sehat atau normal, membuat orang disabilitas terpinggirkan dan bahkan dianggap tidak layak dipertimbangkan”’ (1997, p.380) Pada dasarnya, albeism adalah bentuk diskriminasi terhadap penyandang disabilitas.

Tanpa kita sadari, bentuk-bentuk albeism ini dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat seseorang meragukan penyandang disabilitas terkait kemampuan serta kompetensi nya dalam mengerjakan sesuatu, atau mungkin dengan berpikir atau menganggap seorang penyandang disabilitas adalah beban keluarga dan lingkungan. Satu bentuk ableism yang tidak kita sadari namun sering kita lakukan adalah dengan mengasihani dan menganggap para penyandang disabilitas tidak berdaya, perilaku ini termasuk bentuk albeism karena secara tidak sadar kita menganggap para penyandang disabilitas ini kedudukannya berada dibawah kita selaku orang-orang yang sehat.

Dalam skala yang lebih besar, di ranah hukum, walaupun perlindungan terhadap hak-hak hukum penyandang disabilitas secara eksplisit telah dirumuskan dalam UU No. 8/2016, peraturan tersebut masih menyebabkan banyak permasalahan baru karena adanya ketidaksesuaian dengan peraturan perundang-undangan lain yang mengatur masalah hukum bersangkutan.

Misalnya, dalam buku 1 KUH Perdata, dalam pasal 433 disebutkan bahwa difabel dungu, gila atau mata gelap, harus berada dibawah pengampuan dan dianggap tidak cakap hukum. Padahal, jika dilihat pada Pasal 4 UU No. 8 tahun 2016, penyandang disabilitas dibagi menjadi empat ragam, yaitu penyandang disabilitas fisik, mental, intelektual, dan sensorik. Seharusnya, para penyandang disabilitas memiliki ketentuan serta hak yang berbeda dalam kecakapan hukum sesuai dengan kebutuhan mereka. Menyamakan keempat ragam disabilitas tersebut sebagai ketidakcakapan hukum tanpa ada peninjauan tambahan merupakan salah satu bentuk perilaku diskriminatif kepada penyandang disabilitas yang bersangkutan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Kita dapat memulai dari langkah-langkah kecil untuk mencapai hasil yang besar, misalnya dengan tidak menggunakan istilah-istilah yang negatif seperti cacat, buta, tuli, dan lain-lain. Memberikan apresiasi dan dukungan kepada kelompok difabel, serta mengadvokasikan peraturan yang mendukung teman-teman difabel dalam menjalani hidup mereka.

Sumber: 

  1. Apsari, Nurliana Cipta, and Santoso Tri Raharjo. “Orang Dengan Disabilitas: Situasi Tantangan Dan Layanan Di Indonesia.” Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, vol. 24, no. 3, 21 Sept. 2021, pp. 159–169, 10.22435/hsr.v24i3.3069. Accessed 27 Sept. 2022.

  2. Auditya Saputra. “Ableisme Dan Diskriminasi Terhadap Penyandang Disabilitas.” Pshk.or.id, 6 Dec. 2021, pshk.or.id/blog-id/ableisme-dan-diskriminasi-terhadap-penyandang-disabilitas/. Accessed 27 Sept. 2022.

  3. Janz, Heidi L. “Ableism: The Undiagnosed Malady Afflicting Medicine.” CMAJ : Canadian Medical Association Journal, vol. 191, no. 17, 29 Apr. 2019, pp. E478–E479, www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6488478/, 10.1503/cmaj.180903.

  4. Sodiqin, Ali. “AMBIGIUSITAS PERLINDUNGAN HUKUM PENYANDANG DISABILITAS DALAM PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA.” Jurnal Legislasi Indonesia, vol. 18, no. 1, 31 Mar. 2021, p. 31, 10.54629/jli.v18i1.707. Accessed 27 Sept. 2021.

Hide

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link to create a new password.

Error message here!

Back to log-in

Close
Top