Face Shield atau Masker, Mana yang Lebih Efektif?

Face Shield atau Masker, Mana yang Lebih Efektif?

image

Artikel oleh Naufal Dzulhijar (MCA Team CIMSA 2020-2021)
Desain oleh Faiz Dzulkifar (MCA CIMSA Team 2020-2021)

Kita telah sampai di pertengahan tahun 2020 dan kini masih berperang melawan COVID-19. Kurva penderita penyakit menular ini terus meningkat dan tak menunjukkan tanda-tanda penurunan dalam waktu dekat. Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak dengan kasus terkonfirmasi di atas 100.000 orang. 

Meski begitu, dengan banyaknya kasus meningkat setiap hari, pemerintah Indonesia tak lagi menerapkan lockdown karena dianggap dapat berdampak negatif bagi perekonomian negara. Strategi baru dicanangkan oleh pemerintah Indonesia – dan banyak negara lain – yaitu dengan mengubah gaya hidup masyarakatnya untuk beradaptasi ke tatanan hidup baru atau yang kita kenal dengan sebutan “Adaptasi Kebiasaan Baru”.

Tatanan hidup “Adaptasi Kebiasaan Baru” membuat masyarakat bisa beraktivitas di luar rumah dengan menerapkan beberapa protokol kesehatan, yaitu dengan memakai alat perlindungan diri (seperti masker dan face shield), mencuci tangan dengan sabun, membawa hand sanitizer, dan melakukan physical distancing di tempat umum.

Tren menggunakan face shield dan masker pun meningkat. Ada masyarakat yang memakai keduanya dan ada juga yang hanya memakai salah satunya. Lantas, timbul sebuah pertanyaan: manakah yang lebih efektif untuk mencegah penularan COVID-19, masker atau face shield?

Seperti namanya, face shield dapat melindungi pemakainya dari transmisi COVID-19 karena menutupi seluruh wajah, mulai dari mata, hidung, dan mulut, yang digadang-gadang sebagai tempat masuknya SARS-CoV-2 (virus penyebab COVID-19). Sebuah studi di tahun 2014 membuktikan bahwa face shield dapat menurunkan paparan dari luar hingga 96%. Studi ini menggunakan influenza-infused aerosol dengan jarak antara paparan dan target sekitar 50 cm (Lindsey et al., 2014). Namun, penelitian mengenai hubungan face shield dan transmisi COVID-19 masih sangat terbatas. 

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pun menyatakan bahwa penggunaan face shield untuk menggantikan masker sangat tidak direkomendasikan. Penggunaan face shield tanpa masker tidak efektif, khususnya untuk mencegah transmisi ke orang lain. 

Yuk, coba bayangkan bentuk face shield dan cara penggunaannya. Kita pasti sadar bahwa penggunaan face shield tidak sepenuhnya menempel pada wajah seseorang. Orang yang hanya memakai face shield masih memiliki celah yang membuat aerosol dan droplet dari dirinya dapat keluar bebas ke udara sekitar. CDC lebih merekomendasikan pemakaian face shield yang dibarengi dengan masker karena dapat mencegah kita tertular ataupun menularkan ke orang lain.

Dr. Esper dari Cleveland Clinic menanggapi penggunaan face shield dengan mengatakan, “It protects you, the wearer. But if you cough, because the face shield is away from your face, those droplets can still get out better than if you have a mask on.”

Kendati demikian, CDC juga menyatakan pada keadaan tertentu face shield dapat digunakan tanpa masker. Pengecualian itu diperuntukkan ke orang-orang dengan kondisi kesulitan bernapas dan orang-orang tuli serta orang-orang yang menjaga mereka karena mengandalkan gerakan mulut untuk berkomunikasi.

Nah, dari beberapa rekomendasi ahli dan lembaga kesehatan dunia tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan face shield harus bersamaan dengan penggunaan masker. Hal ini lebih efektif dibandingkan hanya memakai masker saja atau memakai face shield saja. Dengan memakai keduanya, kita dapat menurunkan risiko untuk tertular dan menularkan COVID-19. 

Eits, tapi ingat! Meskipun kita bisa menurunkan risiko dengan penggunaan kedua alat tersebut, ada baiknya tetap meminimalkan kegiatan di luar rumah, terapkan selalu physical distancing saat bepergian, dan jangan lupa untuk rajin cuci tangan.

Referensi :

Hide

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link to create a new password.

Error message here!

Back to log-in

Close
Top