Aku, Kamu, dan Mereka

Aku, Kamu, dan Mereka

image

Tulisan oleh: Priscilla Kusumawardhani (MCAD CIMSA 2020-2021)

Desain oleh: Ivan Wima Aditama (MCA Team CIMSA 2020-2021)

 

Aku, sedang berjuang mencari cara bagaimana menghiraukan kebosanan sebagai makhluk sosial yang perlu interaksi di tengah social distancing yang masih diberlakukan. Kamu, para pembaca yang mungkin secara tidak sengaja ataupun memang ingin membaca artikel ini atas dasar keingintahuan yang mungkin juga sedang sama-sama berharap agar keadaan ini terlihat titik terangnya di tengah terus berjalannya ketidakpastian. Dan mereka semua, mulai dari para tenaga kesehatan yang mungkin sudah sangat letih menjadi garda depan dalam setiap kasus positif bahkan hingga para pekerja penutup kubur bagi para korban COVID-19. 

 

Hari Pahlawan

Mari berdiskusi terkait ‘pahlawan’. Definisi pahlawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani”. Lalu, ketika kita mendengar kata pahlawan seakan pikiran kita tertuju pada kurun waktu kolonisasi Indonesia dan bagaimana para pendahulu Indonesia berjuang memberikan kemerdekaan bagi negeri ini. Hari Pahlawan terwujud atas peran Bung Tomo, gagah berani melawan NICA, pada pertempuran Surabaya. Tanggal 10 November akan selamanya dikenang untuk memberikan pengkhidmatan setinggi-tingginya dan menghormati jasa leluhur pahlawan Indonesia. Maka dapat kita simpulkan bahwa pahlawan adalah individu yang berani berjuang mempertaruhkan nyawa dalam suatu pertempuran. 

 

Sekarang, mari merefleksikan ‘pertempuran’ yang sedang kita jalani. 

Sudah hampir satu tahun lamanya sejak COVID-19 menjadi isu hangat dalam kehidupan sehari-hari. Kasus pertama di Indonesia pada bulan Maret lalu sampai per bulan November dimana seharinya bisa 5.000 orang terdeteksi positif. Pandemi seperti tidak meluangkan waktu bagi kita untuk tenang. Protokol kesehatan diperketat, fasilitas kesehatan kewalahan, masyarakat harus beradaptasi, dan rutinitas tidak lagi sama. Slogan ‘New Normal’ sempat menjadi polemik di tengah pandemi yang sedang hangat, seakan secara implisit menyatakan kondisi Indonesia sudah normal kembali. Kenyataannya sendiri kondisi Indonesia saat ini dan masa yang akan datang tidak akan kembali seperti sedia kala dalam waktu dekat dimana tidak ada lagi kekhawatiran dan keterbatasan ruang gerak. 

 

‘Pertempuran’ yang sedang kita jalani menjadikan setiap individu sebagai ‘pahlawan’ bagi dirinya dan juga orang lain. Rutinitas yang harus berganti seakan memaksa adaptasi dan kompensasi menjadi jalan keluar untuk bertahan hari demi hari. 

 

Pahlawan di era pandemi COVID-19

Para tenaga kesehatan yang harus beralih fungsi khusus untuk menangani para pasien COVID-19 dan semakin berhati-hati dalam pekerjaan sehari-harinya. Maupun yang tetap menjalani kesehariannya dengan tingkat kesiagaan yang semakin tinggi dari biasanya. Per 10 November 2020, bertepatan dengan Hari Pahlawan, total 282 tenaga kesehatan dari profesi dokter dan perawat harus gugur di medan pertempuran. Sepenuh hati mereka mengabdi kepada sumpah mulia yang sudah mereka ikrar kan dan dengan berat hati Indonesia harus melepas pergi para pahlawan yang telah berkorban nyawa. 

Pelajar yang harus beradaptasi dengan penyampaian materi secara daring dan tenaga mengajar yang tak kenal lelah melaksanakan tugas mulia mendidik agen perubahan masa depan bangsa. Sistem ujian yang menjadi lebih rumit menyisakan banyak ruang untuk kesalahan. Namun, semua pihak sudah bekerja sekeras mungkin memberikan hasil yang terbaik ditengah kebingungan yang pasti dirasakan semua pihak. 

Masyarakat Indonesia, entah itu keluarga terdekat atau bahkan teman terdekat, berjuang melawan transisi ekonomi di tengah pandemi. Ekonomi yang pastinya berdampak terutama di awal pandemi dari perusahaan besar sampai karyawan biasa. Sampai saat ini masih berusaha menghasilkan pendapatan yang cukup bagi dirinya sendiri atau keluarga yang ditanggung. 

Dan terakhir, mari kita membahas untuk para ‘pemalas’ di luar sana. Iya, mungkin itu kamu. Para ‘pemalas’ yang patuh pada peraturan menjaga jarak dan memilih untuk di rumah saja selama pandemi, atau menolak ajakan temannya saat diajak pergi dengan alasan malas padahal kamu memang lebih memilih untuk terhindar dari kerumunan. Terima kasih untuk kebosananmu yang telah turut membantu meratakan kurva kasus COVID-19. 

Mungkin cara kita berjuang saat ini berbeda dari kebanyakan pahlawan masa lampau yang berjuang menggunakan bambu runcing melawan penjajah, tapi inilah cara kita berkontribusi sesuai dengan kapasitas yang kita miliki yaitu dengan memilih di rumah dan tetap mematuhi protokol kesehatan jika memang diharuskan untuk keluar dari rumah.

Seorang ibu, bapak, pengusaha, karyawan, supir taksi, petugas kebersihan, asisten rumah tangga, dan kita semua yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Kita semua terdampak dari polemik pandemi dengan cara yang berbeda. Aku, kamu, dan mereka. Kita semua adalah pahlawan dengan cara kita masing-masing. 

 


Referensi:

https://www.kompas.tv/article/122544/282-dokter-dan-perawat-meninggal-akibat-corona-sejak-maret-november-ini-rinciannya

https://blog.ruangguru.com/selain-dokter-siapakah-pahlawan-di-masa-pandemi-covid19 

Hide

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link to create a new password.

Error message here!

Back to log-in

Close
Top