Benarkah Imunisasi Dapat Mencegah Difteri?

Benarkah Imunisasi Dapat Mencegah Difteri?

image


Pada awal bulan Desember tahun ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan mewabahnya difteri di berbagai provinsi. Ditemukan 593 kasus difteri pada akhir November yang menyebabkan 32 orang meninggal. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pun mengerahkan seluruh usahanya dalam mencegah penyebaran difteri lebih jauh. Jika melihat sejarah penyakit difteri itu sendiri, sejak sekitar tahun 1990 kasus difteri hampir sudah tidak ada di Indonesia, namun penyakit ini muncul kembali di tahun 2009 dan mewabah kembali pada akhir 2017. Difteri yang dulu hanya menyerang bayi dan anak-anak, telah didata meningkat pada remaja dan usia 40 tahun keatas. Kemudian muncullah berbagai pertanyaan, apa itu difteri? Mengapa penyakit ini begitu dihebohkan oleh seluruh Indonesia? Apakah difteri dapat dicegah?

Difteri adalah infeksi disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyerang saluran pernapasan atas manusia. Penyakit difteri ini dapat menular dengan mudah, yaitu melalui  batuk, bersin, atau kontak langsung dengan cairan yang keluar dari saluran pernapasan dan penyakit ini biasa menyerang anak usia dibawah 12 tahun dan bayi 6-12 bulan. Infeksi ini dikenali dengan gejala awal seperti demam yang tidak terlalu tinggi, nafsu makan menurun, nyeri menelan, dan nyeri tenggorokan. Gejala yang sangat khas didapatkan pada difteri yaitu timbulnya selaput berwarna putih keabu-abuan di tenggorokan atau hidung yang dapat menutupi saluran pernapasan sehingga dapat menyebabkan penyumbatan. Jika tidak segera ditangani, difteri dapat menyebabkan komplikasi jantung dan paru, bahkan dapat menyebabkan kematian. 

Difteri adalah penyakit yang dapat dicegah. Difteri sudah termasuk dalam program imunisasi pemerintah dikarenakan penyakit ini sangat berbahaya dan dapat mengancam nyawa. Pada peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, imunisasi ini wajib dilakukan untuk anak berusia dibawah 1 tahun sebanyak 3 kali dan 2 kali untuk anak berusia 1 sampai 5 tahun. Kemenkes menghimbau masyarakat juga untuk melakukan booster saat usia 11 sampai 12 tahun dan diikuti dengan booster sebanyak sekali dalam 10 tahun berikutnya.

Pemberian imunisasi pada anak akan menimbulkan antibodi spesifik atau pertahanan tubuh spesifik yang efektif dalam mencegah penularan penyakit, sehingga anak tidak mudah untuk tertular penyakit. Jika seorang anak belum pernah diimunisasi difteri, maka antibodi spesifik difteri tidak akan terbentuk sempurna oleh tubuh sehingga saat terserang bakteri difteri, tubuhnya tidak siap  untuk melawan penyakit difteri karena belum memiliki pertahanan spesifik terhadap bakteri difteri tersebut. Berbeda dengan tubuh anak yang sudah diimunisasi, antibodi spesifik difteri yang didapatkan dari imunisasi akan siap menyerang bakteri difteri sehingga kemungkinan terjangkitnya penyakit difteri akan semakin kecil.

Imunisasi sendiri dapat menimbulkan kekebalan komunitas atau yang disebut Herd Immunity. Setelah dilakukannya imunisasi, seseorang tidak hanya dapat tercegah dari penyakit tertentu,  namun juga dapat mengurangi risiko penularan pada orang yang belum diberikan imunisasi tersebut. Sehingga, terbentuklah komunitas yang kebal akan penyakit tersebut. Hal berbeda akan terjadi jika pada suatu komunitas terdapat banyak orang yang tidak diimunisasi, Penyakit akan mudah menyebar dari satu orang ke orang lainnya, sehingga terbentuklah komunitas yang rentan akan penyakit tersebut. Kekebalan komunitas inilah yang diinginkan oleh pemerintah dengan diadakannya program imunisasi pada anak.

Imunisasi sangat aman untuk diberikan kepada bayi dan anak, bahkan sampai saat ini tidak ada negara yang melarang dilakukannya imunisasi. Negara-negara di dunia sangat gencar dalam meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90 persen di negaranya masing-masing. Imunisasi ini pun diawasi oleh berbagai badan pemerintah. Selain itu, banyak penelitian yang sudah membuktikan bahwa imunisasi difteri sangatlah aman dan hanya memunculkan efek samping ringan dan tidak berkepanjangan. Jadi, tunggu apa lagi? Dengan melakukan vaksinasi, seseorang bukan hanya melindungi dirinya dari serangan wabah difteri namun juga melindungi komunitasnya! Yuk cegah penyakit difteri dengan imunisasi sekarang juga!

By: Sintia N Puspasari, Andi Annisa Rusyda K


DAFTAR PUSTAKA

Kementrian Kesehatan RI. 2017. Meningkatnya Kasus Difteri, 3 Provinsi Sepakat Lakukan Respon Cepat. http://www.depkes.go.id/article/view/17120700003/meningkatnya-kasus-difteri-3-provinsi-sepakat-lakukan-respon-cepat.html. Diakses tanggal 12 Desember 2017.

Bruce M. 2017. Diphtheria. http://emedicine.medscape.com/article/782051-overview. Diakses tanggal 12 Desember 2017.

Hospical Care for Children. 4.5.2 Difteri. http://www.ichrc.org/452-difteri. Diakses tanggal 12 Desember 2017.

Siti Setiati, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Ed.VI Jilid I. Jakarta: Interna Publishing. 2015

IDAI. 2017. Pendapat Ikatan Dokter Anak Indonesia Kejadian Luar Biasa Difteri. http://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/pendapat-ikatan-dokter-anak-indonesia-kejadian-luar-biasa-difteri. Diakses tanggal 12 Desember 2017.

 

Hide

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link to create a new password.

Error message here!

Back to log-in

Close
Top